KATALIS KOAGULASI
Aku masih duduk di bangku cemas tepat pada meja curiga. Menyulut cemburu, menanyakan waktu pada kesibukanmu, berharap ada sedikit aku di sela hidupmu.
Berapa
harga sebuah tanggal merah? Aku ingin membeli semua kesibukanmu.
Tiada
tanggal yang bergerak, tanpa suara di redam bisu aksara. Bukan diam yang
membungkam, tetapi hadirnya telah menyeretku dalam kelam. Kau terlalu repot
mengelak, padahal bersamanya kau telah merencanakan masa depanmu kelak. Kau
terlalu repot berbaik hati, padahal bersamanya kau telah siapkan penghulu untuk
mengikat janji. Aku kalah, kau memilih jatuh dalam pelukan yang kau rasa lebih
mewah.
Kau
pembohong.
Kau
tak pernah sibuk. Hatimu yang tak pernah terketuk.
Kau
pendusta.
Kau
tak pernah punya waktu. Hatimu yang telah terisi sosok baru.
Aku
masih ingat satu waktu ketika kau menyambutku dengan teh hangat di ruang tamu.
Kau dan aku bertukar janji akan seperti apa kita nanti di masa tua. Aku
menyanjungmu begitu dalam, kau memujiku seperti tak ada pria lain yang pernah
dilahirkan.
Di
dekatmu, cita-citaku hanyalah menjadi telinga. Mendengarkan suaramu adalah
alasanku tetap ada di dunia. Di kejauhanmu, tujuan hidupku hanyalah pulang.
Melihat kau menua adalah alasanku menjaga egub jantungmu tetap tenang.
Bibirmu
terus berirama mengeja kata demi kata. Kau menjadi begitu angkuh menceritakan
kejadian. Semua hal yang kau banggakan, semua bahagia yang ingin kau sampaikan.
Bukan karyaku yang kau beri tanda seru, bukan pula setiaku yang meriuh haru.
Kita berpisah jarak, dan di situlah muara cinta bergejolak.
Adalah
satu lelaki, awal semua ceritamu tak bisa berhenti.
Perih.
Nadiku
berdenyut lirih.
Kita
berada di bawah angkasa yang sama, tetapi kenyataannya atmosfer kita jauh
berbeda. Kaulah poros kenapa rinduku bisa terisi, tetapi bukan aku yang kau
jadikan alasan rasa berotasi. Aku termakan delusi. Aku terlalu percaya janji.
Mimpi-mimpi
kita sudah tak ada bedanya dengan dongeng menjelang tidur. Aku tak mau berdebat
lagi tentang hal-hal yang bisa membuat dadaku semakin sesak dan harapku semakin
terbentur. Telah berulang kali kau mengakui, aku menyukaimu tanpa alasan! Lalu
bagian mana lagi yang terus menerus kau pertanyakan?!
Aku
masih ingin mengungkap indahmu lewat karyaku. Terlalu lama aku menggoreskan
warna, sekejam itu kau balas dengan menggoreskan luka.
Aku
salah.
Aku
bukanlah telinga. Aku hanya terpesona.
Aku
bodoh.
Aku
bukan tak mau pergi. Aku hanya lelaki yang enggan melangkah lagi.
Baiklah.
Aku
bersumpah.
Akan
tiba saatnya kau mencariku kembali. Ketika mulutmu tak sabar memberi jawaban
atas semua tindakan, ketika kau ingin membela hakmu sebagai pemilik perasaan,
ketika rasa sesalmu memuncak dan rindumu akhirnya meledak.
Waktu
akan menamparmu dengan sangat bijaksana. Terima kasih atas kesadaran yang
terlambat, di titik ini hanya akan terucap kalimat:
Menangislah...
Created By: Muhammad Nazamuddin
Inspired By: Distilasi Alkena (Wira
Nagara)



0 komentar:
Posting Komentar